-- KLIK DISINI -- Untuk Mendapatkan Berita dan Update Kegiatan SGQX Di Kota Anda Langsung Di Email Anda!
Powered by MaxBlogPress  

Shi Fu

Oleh Adi Ekopriyono

DALAM tradisi China, terdapat aturan yang mengikat hubungan antara guru dan murid: “Yi Ri Wei Shi, Zhong Sheng Wei Fu.” Artinya, sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua. Berapa pun usia guru, tetap saja dia dipanggil shi fu. Shi berarti guru, fu itu orang tua. Shi fu adalah guru sekaligus orang tua bagi muridnya.

Pencipta dan pendiri Shuang Guan Qi Xia internasional, Shifu Yonathan Purnomo, menjelaskan hal itu kepada saya. Kalimat-kalimat itu pula yang tertulis dalam bukunya Mengenal Rahasia Kecerdasan Otak. Shuang Guan Qi Xia merupakan ilmu pengetahuan murni tentang kecerdasan otak, meskipun dasar-dasarnya diambil dari ilmu bela diri Xin Gong.

Yonathan mengajarkan cara-cara mencapai kecerdasan otak yang super dan cemerlang. Bagi dia, otak kanan dan otak kiri dapat dioptimalkan, sehingga tidak perlu lagi dikotomi ilmu eksakta dan ilmu sosial. Misalnya, orang bisa menjadi ahli matematika sekaligus pakar sosiologi, atau pandai ilmu fisika sekaligus pintar sejarah.

Ia ingin menegakkan prinsip pendidikan dan perguruan yang benar dalam proses belajar, serta mengembalikan hubungan yang seharusnya antara guru dan murid. Ia sangat prihatin dengan kondisi pendidikan sekarang yang meluluhlantakkan aturan paling mendasar, sehingga hubungan guru dan murid pun menjadi tidak jelas. Mungkin para guru yang bersalah, karena tidak dapat menjadi contoh bagi murid-muridnya, atau mungkin muridnya yang tidak tahu aturan akibat kurang didikan budi pekerti.

GAGASAN untuk menegakkan prinsip pendidikan itu sangat menarik. Saya sependapat dengan Yonathan yang selalu ingin dipanggil shi fu itu. Pendidikan di negeri ini memang perlu dibenahi, begitu pula relasi antara guru dan murid.

Seperti juga banyak bidang yang lain, pendidikan cenderung menjadi institusi bisnis. Proses belajar-mengajar menjadi persoalan untung-rugi. Hubungan guru dan murid tidak lagi hubungan guru, orang tua dan murid, melainkan bergeser ke arah “penjual jasa” dan “pembeli jasa”.

Dalam perspektif Yonathan, sekarang guru cenderung bukan sebagai status, melainkan profesi. Sebagai status, guru sekaligus menjadi orang tua, yang setulus hati dan penuh kasih sayang meningkatkan kepandaian murid tanpa pamrih, seperti sikap ayah atau ibu terhadap anak-anak mereka. Itulah pengertian shi fu yang sebenarnya.

Shi fu membimbing murid-muridnya, bukan hanya dalam kepandaian ilmu pengetahuan melainkan juga karakter. Murid adalah manusia yang diposisikan sebagai subjek. Dalam konteks itulah, tercakup pendidikan moral, budi pekerti. Kalau ada murid yang bodoh, maka menjadi tugas guru (sekaligus orang tua) untuk membuat mereka pandai, bukan malah dikeluarkan dari sekolah. Tugas guru bukan hanya meningkatkan kepandaian murid yang sudah pandai, melainkan justru menjadikan murid bodoh menjadi pandai.

Guru sebagai profesi tentu sangat berbeda, cenderung menitikberatkan peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan, bukan peningkatan kualitas murid sebagai manusia sepenuhnya. Hubungan guru-murid pun cenderung menjadi hubungan bisnis, karena profesi adalah sesuatu yang didasari konsep “bekerja memperoleh imbalan”. Makin profesional, makin besar imbalan.

Prinsip yang berlaku “saya punya ilmu, kamu punya uang”; maka terjadilah jual-beli ilmu. Guru menjual ilmu, murid membeli ilmu. Wajar, kalau kemudian yang berlaku adalah hukum dagang, hukum ekonomi, bukan hukum pendidikan.

***

SAYA mengira, shi fu makin langka di negeri ini, seiring dengan makin langkanya posisi guru sebagai status karena beralih sebagai profesi. Salah satu potret dari kelangkaan itu adalah makin terpisahkannya pendidikan sekolah dan pendidikan di keluarga. Seolah-olah sekolah hanya mendidik dalam ilmu pengetahuan, sedangkan masalah moral, budi pekerti, dan karakter, menjadi masalah orang tua di rumah. Guru sekadar shi, orang tua sekadar fu.

Saya lalu ingat pidato Bung Karno dulu, yang selalu menekankan pentingnya pembangunan karakter bangsa. “Nation and character building!” katanya.

Cita-cita itu akan terwujud kalau di negeri ini banyak shi fu; guru sekaligus orang tua yang selalu menjadi teladan dan membimbing murid-muridnya, bukan hanya menjadi pintar melainkan juga berkarakter.

Kompetensi itu penting, tapi karakter tidak kalah penting. Zaman serbamaju ini tidak sekadar membutuhkan orang-orang yang pintar, dengan indeks prestasi (IP) tiga koma sekian atau sarjana-sarjana yang lulus cumlaude. Lebih dari itu, bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berotak cerdas sekaligus peduli terhadap kemajuan bangsanya, bukan sekadar memikirkan dirinya sendiri.

Orang-orang yang dibutuhkan seperti itu hanya akan muncul dari pendidikan yang tidak hanya bersifat kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotorik. Murid-murid tidak hanya belajar menghafal, melainkan juga memahami dan mempraktikkan sekaligus menyinergikan dan mengoptimalkan otak kanan dan otak kiri.

Mungkin perlu reformasi dunia pendidikan, agar bangsa ini bisa mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.(68)

Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka di Semarang.

Sumber: Suara Merdeka

Yonathan Purnomo, Guru Ilmu Shuang Guan Qi Xia

Kerjakan Dua Hal Berbeda dalam Waktu Bersamaan
Pelatihan menyeimbangkan kinerja otak kanan dan kiri kini menjadi tren di metropolis. Yonathan Purnomo adalah salah seorang guru yang banyak diminta menangani masalah tersebut. Dengan ilmu Shuang Guan Qi Xia, tiap Selasa, dia juga mengajari para polisi di Mapolda Jatim. Siapa Yonathan?

Anggit Satriyo Nugroho

Hanya dalam hitungan detik, Shifu (guru) Yonathan Purnomo mampu menyelesaikan perkalian enam digit angka kali enam digit angka lagi. Semua dilakukan dengan sangat cepat dan tanpa menghitung lebih dulu.

Hebatnya, begitu dicocokkan dengan hitungan kalkulator, hasilnya seratus persen benar. Dua belas angka hasil perkalian itu sama sekali tak ada yang meleset. Bukan hanya itu, dia mengaku hanya butuh waktu tiga bulan untuk menghafal delapan ribu huruf Mandarin.

“Untuk hitungan semacam itu, saya sudah mencoba perkalian 13 digit kali 13 digit. Hasilnya benar dan sudah berkali-kali dibuktikan,” ungkap pria 44 tahun tersebut kemarin (29/9).

Tiap hari, Yonathan didatangi tamu orang-orang yang ingin belajar mengaktifkan otak kanan dan kiri. “Kemampuan semacam ini (menghitung cepat, Red) bisa dimiliki tiap orang apabila kedua otak kanan dan kiri aktif,” katanya.

Ucapan Yonathan tersebut memang beralasan. Kecepatannya mengalikan angka-angka dan belajar bahasa itu memang dihasilkan melalui sebuah proses yang logis dan bisa dipelajari. Kelebihan itu berasal dari ilmu Shuang Guan Qi Xia (dua pena jalan bersama) yang dia pelajari sejak 2001.

Lambang yang dipakai ilmu itu pun menggambarkan kemampuan dua otak. Yakni, seorang pendekar berjubah putih yang menggambar kapal dengan tangan kiri serta ombak lautan dengan tangan kanan. Saat ini, ilmu tersebut lebih dikenal sebagai ilmu kecerdasan otak.

Ilmu itu, kata Yonathan, berprinsip dari optimalisasi penggunaan dua otak sekaligus. Prinsip-prinsip yang dipakai dalam ilmu tersebut sebenarnya berasal dari ilmu Xin Gong yang diwariskan secara turun-temurun dari marga Huang di Tiongkok. Ilmu itu menggabungkan kungfu, musik, dan lukis secara bersama-sama. “Ibaratnya, saat mengerjakan sesuatu, tangan kanan leluhur saya bisa menggambar kucing, sementara tangan kirinya bisa melukis anjing. Dua hal berbeda, tapi bisa dikerjakan bersama-sama,” ungkapnya.

Namun, dalam perkembangannya, tidak semua ilmu tersebut bisa diwariskan secara turun-temurun. Hanya cabang kungfu yang terus lestari hingga sekarang. Ilmu tersebut juga tak bisa diturunkan kepada sembarang orang. Dalam satu keluarga, kata Yonathan, hanya satu anak yang dipilih untuk menerima warisan ilmu tersebut.

Nah, dia mengaku termasuk keturunan ke-62 dalam silsilah keluarga Huang. Dia juga disumpah untuk tidak menurunkan ilmu tersebut kepada banyak orang. “Saya dipilih menerima ilmu itu dari papa langsung,” tegasnya.

Ayah Yonathan, Petrus Huang, merupakan keturunan ke-61. “Tidak semua anak dalam keluarga saya mendapat warisan ilmu itu. Hanya saya,” ujarnya.

Soal ilmu Xin Gong itu, Yonathan juga wajib menurunkannya kepada anak-anaknya. Dia akan memilih seorang anak yang sanggup menerima ilmu tersebut. “Hanya, siapa dia, masih kami rahasiakan,” katanya.

Menurut dia, tingkat tertinggi ilmu tersebut adalah mengalahkan orang tidak dengan tenaga dan kekerasan, tapi cukup dengan kata-kata. “Karena itu, saya berpikir mengambil prinsip penting dalam ilmu tersebut. Unsur bela dirinya saya pereteli. Jadilah ilmu baru,” jelasnya. Sementara itu, kerahasiaan kungfu Xin Gong tetap tersimpan.

Sebelum mempelajari ilmu tersebut, Yonathan menyatakan, dirinya termasuk pengusaha yang cukup sukses. Usahanya berkembang pesat hingga ke luar negeri. Namun, dia jatuh sakit hingga harus beberapa hari berobat di sebuah rumah sakit di Singapura. Saat itu, dia mengalami gangguan pernapasan. “Saat terbaring sakit, saya berpikir bahwa ada warisan ayahnya yang lama ditinggal, yakni ilmu Xin Gong tersebut,” ungkapnya.

Karena itu, dia bertekad makin mendalami warisan ayahnya tersebut. Dia menitipkan semua usahanya kepada keluarga.

Selama empat tahun, 2001 sampai 2005, Yonathan berkelana memperdalam ilmu tersebut di negeri asalnya, Tiongkok. Dia belajar kepada banyak guru. Di antaranya, di Tibet, Hu Nan, He Bei, dan Zhe Jiang. “Di daerah-daerah itu, saya belajar kepada tujuh guru,” jelasnya.

Dia belajar tentang soal seluk beluk peredaran darah dan energi. “Menurut guru saya di sana, saya mendapat panggilan hidup untuk melayani banyak orang,” tegasnya.

Karena itu, sepulang dari Tiongkok, Yonathan pun bertekad mengembangkan ilmu yang didapatkan. “Sejak itu, saya mulai mengarahkan pada ilmu kecerdasan otak. Berpikir menggunakan otak kanan dan otak kiri. Saya terus fokus ke sana,” kata sarjana hukum tersebut.

Maret 2006, Frederik, kakak angkat Yonathan, yang menjadi pengurus sebuah organisasi Buddha di Surabaya, mengundang dirinya untuk mengadakan pelatihan. “Itu penampilan perdana saya mengadakan pelatihan untuk umum. Hasilnya luar biasa, banyak orang yang tertarik,” ujarnya.

Dia menyatakan, otak bisa maksimal bila berpokok pada tiga hal. Yakni, Xin Qi (cara pernapasan yang baik), nutrisi yang cukup, serta normalisasi saraf dan otot leher bagian belakang. “Semua ada tekniknya. Itu hanya bisa dikembangkan dengan banyak latihan,” tegasnya.

Cara pernapasan tersebut meliputi teknik mengambil oksigen. Yakni, saat dialirkan ke dalam tubuh, oksigen mampu memberikan kehangatan terhadap rongga dalam perut. “Di rongga itulah pusat energi manusia,” jelasnya. Dari saraf di rongga itulah, penyebaran energi ke seluruh tubuh diatur. Ilmu pernapasan dalam Shuang Guan Qi Xia itu juga termasuk cara menahan napas dan cara mengendalikan pernapasan.

Bukan hanya itu. Kecerdasan otak juga dibangun melalui nutrisi yang baik. Prinsipnya, tidak semua makanan sehat itu baik. Selain itu, tidak semua makanan sehat juga baik dimakan bersama-sama. “Di Tiongkok itu ada ilmu tentang makanan. Misalnya kacang-kacangan itu tidak baik dimakan dengan telur,” ucapnya. Apabila dipaksakan akan menghasilkan racun.

Karena itu, ada prinsip makanan yang baik dalam Shuang Guan Qi Xia, yakni makan makanan yang monoton. “Tetapkan sepuluh makanan kesukaan. Dan itu saja yang dimakan. Tidak perlu berganti-ganti,” katanya. Makanan yang dimakan bersama-sama juga tidak baik untuk kesehatan. Misalnya gado-gado dan rujak. “Saya suka daun-daunan. Tapi sekali makan hanya memakan satu jenis daun saja. Kalau pengin nambah, nanti empat jam lagi,” terangnya.

Selain dua ilmu tadi, Yonathan juga mengembangkan gerakan-gerakan yang memacu kinerja otak kanan dan otak kiri. Ada 108 gerakan ringan yang mampu merangsang kerja dua otak itu. Rasanya memang mudah melakukan, tapi begitu dipraktikkan susahnya bukan main.

Bersama-sama Yonathan, Jawa Pos diajak memutar tangan kiri untuk membentuk angka delapan, sementara tangan kanan membentuk angka nol. Teknik ini sangat sulit dipraktikkan. “Kalau Anda salah. Karena kerja otak Anda masih terfokus di otak kiri,” jelasnya.

Ada pula gerakan memacu kerja otak yang cukup sulit. Misalnya melambaikan tangan kanan keluar, sementara tangan kiri dilambaikan masuk. Teknik ini pun juga cukup sulit dilakukan.

Yonathan mengaku cukup laris diundang memaksimalkan kinerja otak itu. Dia berkali-kali diundang ke Mapolda Jatim, sampai kepala sekolah-sekolah Petra. “Ada juga yang dokter, dosen sampai shinshe pengobatan,” ucapnya.

Namun dia juga kerap kali menghadapi hambatan. Kehadirannya mengajarkan ilmu kecerdasan otak itu berkali-kali ditolak saat berpromosi di lembaga pendidikan anak berkebutuhan khusus hingga lembaga bimbingan belajar. “Mungkin mereka takut kehilangan pasar saat anak didik mereka berhasil memaksimalkan kerja otak,” jelasnya. (*)

Sumber: Indopos

Shifu Yonathan Purnomo, Bikin Teori Baru tentang Kecerdasan

Patahkan Paham Dikotomi Fungsi Otak Kiri dan Kanan
Selama ini, teori menyebut struktur otak terbagi dua, kiri dan kanan. Fungsinya pun berbeda-beda, dan harus dilatih sendiri-sendiri. Namun, teori Shuan Guan Qi Xia berusaha mematahkan dikotomi itu.

WIJAYANTI PUTRI, Solo

SEKILAS, tak ada kesan yang istimewa dari penampilan Shifu (guru) Yonathan Purnomo. Termasuk, saat koran ini menemui laki-laki 44 tahun tersebut. Sekilas, sosoknya terlihat tak jauh beda dengan tampilan para eksekutif muda (esmud) lainnya.

Namun, begitu berbicara dengan Yonathan, panggilan akrabnya, ada kesan lain yang muncul. Terlebih, saat bapak empat anak ini mulai memaparkan tentang teori Shuan Guan Qi Xia (Rahasia Kecerdasan Otak), yang dibuatnya.

Shuan Guan Qi Xia adalah rahasia yang telah dia pelajari selama 5 tahun di negeri Tiongkok, medio 2000-2004. Mendalami teori di negara asalnya itu merupakan puncak dari penelitian dia 20 tahun, tentang teori Shuan Guan Qi Xia.

Menurutnya, otak merupakan energi atau kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Dengan otak manusia dapat berpikir dan bertindak. Kesuksesan dan kegagalan dalam beraktivitas ditentukan pula oleh perkembangan otak.

Namun sayangnya, selama ini hampir 90 persen otak manusia di Indonesia bermasalah. Dari 100 persen fungsi otak, rata-rata baru digunakan 5 persen. Sementara, 95 persennya sama sekali belum difungsikan.

“Otak merupakan hal yang luar bisa yang dimiliki manusia. Dengan otak orang dapat memiliki kecerdasan dan prestasi yang bagus. Tapi, jika otak tidak bekerja secara optimal, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa,” jelas pria asal Surabaya, Jawa Timur.

Belum maksimalnya fungsi dua belah otak, lanjut Shifu Yonathan, dikarenakan tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Yaitu, kemampuan mengoptimalkan kedua otaknya secara imbang. Untuk mencapai hal tersebut, perlu dilakukan latihan-latihan dengan menggunakan metode khusus. Tujuannya, supaya otak dapat bekerja secara optimal dan seimbang, baik kiri maupun kanan.

“Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mampu memakai satu di antara dua otak yang dimiliki. Memang lewat satu otak banyak dijumpai orang sukses, cerdas, dan pintar. Tapi, bisa dibayangkan apa yang bisa dihasilkan, jika kedua otak bekerja secara seimbang dan optimal,” terang anak pertama dari 6 bersaudara ini.

Metode Shuan Guan Qi Xia sudah diajarkannya kepada ribuan orang. Teorinya merupakan hasil dari perjalanannya di Tiongkok dan hasil belajar kepada banyak guru. Awalnya, dia penasaran akan ajaran turun temurun dari leluhurnya tentang kecerdasan otak. Dia pun lantas memperdalam ajaran itu, dan mencoba mencari teorinya sendiri.

Setelah dia menemukan apa yang dia cari, perlahan Shifu Yonathan mulai mengarahkan pada ilmu kecerdasan otak. Awalnya, dia mengujicobakan pada anaknya sendiri. Teorinya terbukti. Anaknya yang siswa sekolah dasar nilai ulangannya selalu sembilan. Padahal, setiap hari dia hanya belajar selama setengah jam.

Berbeda dengan metode lainnya, metode belajar dan pelatihan Shuang Guan Qi Xia tidak mengenal usia. Metode ini mudah dipelajari, ditunjang teknik sederhana yang diciptakan pria necis ini. Juga, tidak ada kata terlambat bagi orang dewasa untuk mempelajarinya. Kendati, memang lebih efektif dilakukan sejak dini.

Sebab, metodenya bisa membuat interval kemampuan otak tidak turun naik. Banyak orang yang saat kecil bodoh, namun saat dewasa mendadak jenius. Banyak pula yang sebaliknya, atau fluktuatif, bodoh-pintar-bodoh, atau pintar-bodoh-pintar lagi.

“Cara ini memang dirancang secara khusus untuk mengaktifkan dan memfungsikan kedua otak secara seimbang. Itu membangkitkan potensi terpendam kedua bagian otak,” terang pria yang mampu mengalikan 13 digit kali 13 digit tanpa bantuan alat hitung.

Shuang Guan Qi Xia dalam bahasa kamus berarti dua tangan yang masing-masing memegang sebuah kuas. Pada saat yang bersamaan, secara serentak menulis atau menggambar 2 objek yang berbeda. Hal ini menggambarkan suatu kemampuan luar biasa, yang dapat dimiliki seseorang bilamana berlatih Shuang Guan Qi Xia.

Untuk mempermudah orang mempelajarinya, Shifu Yonathan mengembangkan gerakan-gerakan yang memacu kinerja otak kanan dan otak kiri. Ada 108 gerakan ringan yang mampu merangsang kerja dua otak itu. Rasanya memang mudah melakukan. Tetapi, begitu dipraktikkan, susahnya bukan main.

Begitu pun saat koran ini mencoba menirukan gerakan-gerakan tersebut. “Rahasianya adalah banyak melatih otak. Sehingga, mampu menstimulus zat otak, yang berfungsi menghubungkan sejumlah syaraf yang belum tersambung di otak kita,” bebernya dengan yakin.(*/tej)

Sumber: Jawa Pos, Radar Solo

SGQX Bisa Maksimalkan Potensi Otak

28/03/2008 05:28:15

YOGYA (KR) - Manusia dilahirkan dalam kondisi cerdas. Namun dalam perjalanan waktu, manusia tidak menyadari sepenuhnya apakah sudah mengolah kecerdasan secara optimal. “Tak ada kata terlambat menjadi cerdas bahkan bagi yang berusia paruh baya. Karena cerdas bukan tujuan tetapi hak setiap insan.

Kita bisa cerdas dengan cara mengolah potensi otak kita dan mau terus belajar,” kata pendiri Shuang Guan Qi Xia (SGQX) Shifu Yonathan Purnomo didampingi pengurus SGQX Penky, Lily P, Fredrik Yusuf dan pengurus Gedebook Timmy Hartadi, Upek S, Opang C saat silaturahmi ke Joglo KR yang diterima Pemred Drs Octo Lampito MPd, Rabu (26/3).

Hal ini yang mendasari Shifu Yonathan Purnomo mendirikan SGQX setelah mempelajari ilmu keluarga Xin Gong yang diturunkan di keluarganya sejak 2 ribu tahun lalu. Ilmu ini mengajarkan penggunaan dua otak secara bersamaan yang ditambah dengan ilmu kedokteran modern dan tradisional dari Cina dari lawatan ke Cina hingga Tibet.

Shifu mengatakan SGQX mengajarkan cara memaksimalkan potensi otak melalui teknik memfungsikan kedua otak secara seimbang, membangkitkan potensi terpendam kedua bagian otak dan secara fisik memfokuskan latihan otak kanan dan otak kiri secara serempak pada saat yang sama untuk melakukan dua hal yang berbeda. Teknik ini sangat mudah dipelajari dan bisa diaplikasikan oleh anak usia 4 tahun keatas hingga manula. Selain di Indonesia, SGQX telah berkembang di Cina, Hongkong dan Spanyol.(M-4/R-5)-f

Sumber: Kedaulatan Rakyat

TAMANSISWA PERINGATI HARDIKNAS ; Shifu Yonathan: Menjadi Cerdas Itu Sederhana

04/05/2008 05:28:40 YOGYA (KR) - Bangsa yang tidak mengembangkan kecerdasan masyarakatnya akan menjadi bangsa miskin dan terbelakang, karena kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan. Bangsa Indonesia hanya bisa bangkit dari keterpurukan jika masyarakatnya cerdas.

Hal itu dikemukakan pendiri Shuang Guan Qi Xia (SGQX), Shifu Yonathan Purnomo dalam orasi pendidikan ‘Menuju Peradaban Cerdas, Bangkit Pendidikan Indonesia’ di Pendopo Agung Ki Hadjar Dewantara Jalan Tamansiswa Yogyakarta, Jumat (2/5). Kegiatan ini diselenggarakan Perguruan Tamansiswa menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

“Pendidikan saat ini sangat mahal, hanya bisa diakses orang-orang berduit. Akibatnya kita menjadi bangsa terbodoh nomor dua di ASEAN. Karena itu saya terpanggil untuk membantu dunia pendidikan dengan menyosialisasikan ilmu yang bisa mencerdaskan bangsa,” katanya.

Dijelaskan, untuk mengoptimalkan otak agar menjadi cerdas bisa dilakukan siapa pun dengan latihan yang sederhana dan murah. Metode pelatihan SGQX berupa latihan koordinasi gerakan fisik yang dirancang untuk memfungsikan dan mengoptimalkan potensi otak kanan dan kiri secara seimbang.

“Gerakan-gerakan koordinasi ini akan merangsang pembentukan mielin atau zat daya ingat di otak. Zat ini mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang, karena itu latihan dengan metode SGQX ini harus rutin dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan dan sekaligus kesehatan,” terangnya.

“Dalam pendidikan tidak boleh ada paksaan, hukuman dan perintah karena merupakan pemerkosaan hak anak. Yang kami gunakan melalui metode ini adalah tut wuri handayani, yaitu memberikan kemerdekaan kepada sang anak tapi tidak terlepas dari perhatian orangtua,” kata Sutikno.

Program ini akan dilaksanakan 15 Mei hingga 15 Juni, untuk anak-anak usia dini. Mereka akan mengikuti outbond di Serambi Merapi untuk diperkenalkan dengan alam. “Kegiatan ini dimaksudkan untuk melatih rasa cinta alam dan menumbuhkan sifat saling berbagi, tanggung kawab, kejujuran, disiplin, kerjasama, mengerti keadilan dan peduli sesama,” paparnya.

Ditambahkan, setelah belajar dari alam di Serambi Merapi, anak-anak diajak kembali ke kota untuk diperkenalkan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lembaga seperti kantor pos, Bank Indonesia, istana kraton dan taman pintar. “Dengan metode ini diharapkan terjadi pendidikan yang betul-betul humanis, tak hanya membentuk kecerdasan pikiran, namun yang lebih utama adalah kecerdasan batin,” pungkasnya. (*-4)-z

Sumber: Kedaulatan Rakyat