Shi Fu
Oleh Adi Ekopriyono
DALAM tradisi China, terdapat aturan yang mengikat hubungan antara guru dan murid: “Yi Ri Wei Shi, Zhong Sheng Wei Fu.” Artinya, sehari menjadi guru, seumur hidup menjadi orang tua. Berapa pun usia guru, tetap saja dia dipanggil shi fu. Shi berarti guru, fu itu orang tua. Shi fu adalah guru sekaligus orang tua bagi muridnya.
Pencipta dan pendiri Shuang Guan Qi Xia internasional, Shifu Yonathan Purnomo, menjelaskan hal itu kepada saya. Kalimat-kalimat itu pula yang tertulis dalam bukunya Mengenal Rahasia Kecerdasan Otak. Shuang Guan Qi Xia merupakan ilmu pengetahuan murni tentang kecerdasan otak, meskipun dasar-dasarnya diambil dari ilmu bela diri Xin Gong.
Yonathan mengajarkan cara-cara mencapai kecerdasan otak yang super dan cemerlang. Bagi dia, otak kanan dan otak kiri dapat dioptimalkan, sehingga tidak perlu lagi dikotomi ilmu eksakta dan ilmu sosial. Misalnya, orang bisa menjadi ahli matematika sekaligus pakar sosiologi, atau pandai ilmu fisika sekaligus pintar sejarah.
Ia ingin menegakkan prinsip pendidikan dan perguruan yang benar dalam proses belajar, serta mengembalikan hubungan yang seharusnya antara guru dan murid. Ia sangat prihatin dengan kondisi pendidikan sekarang yang meluluhlantakkan aturan paling mendasar, sehingga hubungan guru dan murid pun menjadi tidak jelas. Mungkin para guru yang bersalah, karena tidak dapat menjadi contoh bagi murid-muridnya, atau mungkin muridnya yang tidak tahu aturan akibat kurang didikan budi pekerti.
GAGASAN untuk menegakkan prinsip pendidikan itu sangat menarik. Saya sependapat dengan Yonathan yang selalu ingin dipanggil shi fu itu. Pendidikan di negeri ini memang perlu dibenahi, begitu pula relasi antara guru dan murid.
Seperti juga banyak bidang yang lain, pendidikan cenderung menjadi institusi bisnis. Proses belajar-mengajar menjadi persoalan untung-rugi. Hubungan guru dan murid tidak lagi hubungan guru, orang tua dan murid, melainkan bergeser ke arah “penjual jasa” dan “pembeli jasa”.
Dalam perspektif Yonathan, sekarang guru cenderung bukan sebagai status, melainkan profesi. Sebagai status, guru sekaligus menjadi orang tua, yang setulus hati dan penuh kasih sayang meningkatkan kepandaian murid tanpa pamrih, seperti sikap ayah atau ibu terhadap anak-anak mereka. Itulah pengertian shi fu yang sebenarnya.
Shi fu membimbing murid-muridnya, bukan hanya dalam kepandaian ilmu pengetahuan melainkan juga karakter. Murid adalah manusia yang diposisikan sebagai subjek. Dalam konteks itulah, tercakup pendidikan moral, budi pekerti. Kalau ada murid yang bodoh, maka menjadi tugas guru (sekaligus orang tua) untuk membuat mereka pandai, bukan malah dikeluarkan dari sekolah. Tugas guru bukan hanya meningkatkan kepandaian murid yang sudah pandai, melainkan justru menjadikan murid bodoh menjadi pandai.
Guru sebagai profesi tentu sangat berbeda, cenderung menitikberatkan peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan, bukan peningkatan kualitas murid sebagai manusia sepenuhnya. Hubungan guru-murid pun cenderung menjadi hubungan bisnis, karena profesi adalah sesuatu yang didasari konsep “bekerja memperoleh imbalan”. Makin profesional, makin besar imbalan.
Prinsip yang berlaku “saya punya ilmu, kamu punya uang”; maka terjadilah jual-beli ilmu. Guru menjual ilmu, murid membeli ilmu. Wajar, kalau kemudian yang berlaku adalah hukum dagang, hukum ekonomi, bukan hukum pendidikan.
***
SAYA mengira, shi fu makin langka di negeri ini, seiring dengan makin langkanya posisi guru sebagai status karena beralih sebagai profesi. Salah satu potret dari kelangkaan itu adalah makin terpisahkannya pendidikan sekolah dan pendidikan di keluarga. Seolah-olah sekolah hanya mendidik dalam ilmu pengetahuan, sedangkan masalah moral, budi pekerti, dan karakter, menjadi masalah orang tua di rumah. Guru sekadar shi, orang tua sekadar fu.
Saya lalu ingat pidato Bung Karno dulu, yang selalu menekankan pentingnya pembangunan karakter bangsa. “Nation and character building!” katanya.
Cita-cita itu akan terwujud kalau di negeri ini banyak shi fu; guru sekaligus orang tua yang selalu menjadi teladan dan membimbing murid-muridnya, bukan hanya menjadi pintar melainkan juga berkarakter.
Kompetensi itu penting, tapi karakter tidak kalah penting. Zaman serbamaju ini tidak sekadar membutuhkan orang-orang yang pintar, dengan indeks prestasi (IP) tiga koma sekian atau sarjana-sarjana yang lulus cumlaude. Lebih dari itu, bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berotak cerdas sekaligus peduli terhadap kemajuan bangsanya, bukan sekadar memikirkan dirinya sendiri.
Orang-orang yang dibutuhkan seperti itu hanya akan muncul dari pendidikan yang tidak hanya bersifat kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotorik. Murid-murid tidak hanya belajar menghafal, melainkan juga memahami dan mempraktikkan sekaligus menyinergikan dan mengoptimalkan otak kanan dan otak kiri.
Mungkin perlu reformasi dunia pendidikan, agar bangsa ini bisa mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.(68)
– Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka di Semarang.
Sumber: Suara Merdeka